Menjadikan Diri Sebagai Muslim Yang Produktif

Penulis : David Iwanto [Tim Buku Mutiara Bayt Al Fath]

Di tengah kehidupan kita yang terus berjalan ini, kita seringkali tidak menyadari bahwa waktu berjalan dengan sangat cepat. Tiba-tiba saja sudah berganti dari jum’at ke jum’at, dari bulan ke bulan, dan dari tahun ke tahun. Sungguh waktu itu cepat berlalu. Apalagi jika kita banyak mengisi waktu itu pada perbuatan yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Di dalam Al-Qur’an Surah Al-‘Asr [103] ayat 1-3, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman ;


وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر (3)

Artinya : ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr [103] ayat 1-3).

                Di dalam surah Al-‘Ashr Allah bersumpah “Demi Masa” atau “Demi Waktu” sembari menjelaskan bahwa sungguh kita ini sebagai manusia berada dalam keadaan rugi atau bangkrut, kecuali :

  1. Orang yang beriman (kepada Allah dan Rasul-Nya)
  2. Orang mengerjakan amal sholih (Ikhlas dan ittiba’)
  3. Orang yang saling memberi nasihat tentang kebenaran (kebaikan)
  4. Orang yang saling menasihati untuk bersabar. (bersabar dalam ketaatan, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan, dan bersabar Ketika ditimpa musibah)

Dari ke-4 poin diatas maka kita sebagai muslim yang beriman dan bertauhid, kita dibimbing oleh agama kita agar menjadi pribadi yang produktif baik itu di lingkungan sekolah, perusahaan, kantor, jual beli, dan macam macam muamalah yang lain. Maka pertanyaannya adalah bagaimana diri kita ini bisa menjadi Muslim yang Produktif? Bagaimana kita mengisi waktu, hari, dan hidup kita dengan kegiatan yang positif? Beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai seorang muslim yang bukan hanya baik dalam mengerjakan akhirat, namun mampu menjalankan peran kehidupan yang baik dan benar, yakni:

Membaca Dzikir Pagi Petang dan Berdoa kepada Allah

            Merutinkan membaca dzikir pagi petang sesuai tuntunan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah satu ikhtiar bagi kita untuk memperbaiki rutinitas kita supaya menjadi lebih bermanfaat. Salah satu dzikir yang dibaca adalah ;

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Artinya : “Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur.” (Dibaca 1 x)

Faedah: Meminta pada Allah kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya, juga agar terhindar dari kejelekan di hari ini dan kejelekan sesudahnya. Di dalamnya berisi pula permintaan agar terhindar dari rasa malas padahal mampu untuk beramal, juga agar terhindar dari kejelekan di masa tua. Di dalamnya juga berisi permintaan agar terselamatkan dari siksa kubur dan siksa neraka yang merupakan siksa terberat di hari kiamat kelak.

Selain itu, sebagai seorang muslim, kita juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha) untuk memohon agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang berkah, halal dan baik, serta amalan yang diterima. Hal tersebut bisa kita amalkan melalui doa:

 اللَّھمَّ إنَّي أسألَكَُ عِلمًا نافعًا، ورِزْقًا طیِّبًا، وعمَلًا مُتقَبَّلًا

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik (dan halal -pen.), dan amalan yang diterima.”

Membaca Al-Qur’an Setiap Hari

Jika dihitungan secara matematis dengan waktu dunia, membaca Al-Quran terlihat seperti mengurangi waktu kita. Seolah-olah waktu 24 jam yang kita punya berkurang sekian detik, sekian menit atau sekian jam apabila digunakan untuk membaca Al-Quran. Tapi, tahukah kamu bahwa waktu yang kamu gunakan untuk membaca Al-Quran itu sebenarnya tidak hilang begitu saja. Ia akan diganti oleh Allah dengan keberkahan yang berlipat ganda.

Apa itu keberkahan? Keberkahan artinya pertambahan dan pertumbuhan. Wujudnya bisa bermacam-macam. Misalnya, pekerjaanmu beres, produktivitasmu meningkat, keuntunganmu bertambah, kesehatanmu terjaga dan seterusnya. Itu adalah wujud keberkahan yang akan diperoleh oleh orang yang membaca Alquran. Pernahkah Anda mendengar tentang orang yang stress? Atau orang yang sedang kebingungan mencari inspirasi? Atau orang yang kesulitan menyelesaikan pekerjaannya? Atau orang yang waktunya habis sia-sia tanpa produktivitas? Itu adalah bentuk-bentuk kehilangan umur yang disebabkan tidak berkahnya waktu.

Ada satu peristiwa penting yang dialami oleh Al-Hafizh Dhiya’uddin Al-Maqdisi, sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Dzail Thabaqat Al-Hanabilah. Dikisahkan bahwa saat hendak melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, sang guru yang bernama Syekh Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi memberikannya nasihat.

Saat itu dia berkata, “Perbanyaklah tilawah Al-Quran dan jangan melalaikannya. Sebab, ilmu yang engkau tuntut akan dimudahkan bagimu sesuai kadar banyaknya tilawah Al-Quranmu.” Mendapati nasihat itu, Dhiya’uddin mengamalkan nasihat gurunya itu dengan penuh kesungguhan. Kemudian, dia memberikan persaksian: “Aku pun mencobanya dan melihat manfaatnya. Dahulu, apabila diriku banyak membaca Al-Quran, maka Allah memberiku kemudahan untuk mendengar dan menulis berbagai hadits. Namun, apabila aku tidak melakukannya, maka kemudahan itu tidak mendatangiku.”

Jadi, jelaslah bahwa membaca Al-Quran membawa keberkahan sehingga waktu yang kita miliki bisa lebih bermakna dengannya. Jangan kamu membaca Al-Quran di waktu luangmu, tapi luangkan waktumu untuk membaca Al-Quran.

Merencanakan Aktivitas Harian dan Memiliki Target

                Diantar sumber terbesar kerusakan seorang Muslim adalah kurangnya kegiatan positif dan waktu luang. Ini adalah penyakit yang bisa menyebabkan seorang Muslim menjadi lemah. Baik itu berupa lemah fisik maupun lemah hatinya (imannya). Bahkan lemahnya qolbu bisa jadi lebih berbahaya, karena hati (iman) yang lemah membuat fisik menjadi lemah. Hal ini dibahas oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah, beliau berkata :

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al-Jawabul Kafi 158)

Inilah kaidah kehidupan, bahwa jika kita tidak mengisi kehidupan kita dengan kegiatan positif, kita tidak mencari kegiatan positif, maka pasti kita isi dengan kegiatan yang negatif atau minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Apalagi bagi seorang pemuda yang jiwanya masih bergelora.Kita harus merencanakan dengan perencanaan yang matang dan detail mengenai aktivitas harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan dalam hal mencapai sebuah target dan tujuan yang ingin dicapai.

Allah Ta’ala berfirman ;

یٰٓاَیُّھَا الَّذِیْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا ﷲَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لغَِدٍۚ وَاتَّقُوا ﷲَ اِۗنَّ ﷲَ خَبِیْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya : ““Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59] ayat 18)

Dalil di atas menunjukkan kepada kita sebuah makna yang indah dan makna yang mulia tentang perintah kepada orang-orang beriman untuk bersiap menghadapi masa depan (akhirat). Oleh karena itu, dalam rangka menuju suatu tujuan mulia dan agung tersebut, kita hendaknya bersiap diri dalam mempersiapkan dan merencanakan dengan hal baik, mulai dari hal-hal yang kecil agar menjadi sebuah kebiasaan sehingga menjadi hal besar dalam ruang lingkup aktivitas menuntut ilmu, mencari rezeki, dan beramal saleh. Hal tersebut dapat kita implementasikan dalam kehidupan setiap hari, seperti ketika bangun pagi sebelum subuh, untuk melaksanakan salat lail (salat malam) dilanjutkan salat Subuh lengkap dengan ibadah sunah lainnya, seperti zikir dan membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat Fajar dan Duha. Hal ini menjadi tekad yang kuat dalam membuat suatu kebiasaan (habit) dalam mem-planing proses tujuan hidup kita untuk memudahkan menjalankan semua aktivitas yang akan kita lakukan.

Semoga yang sedikit ini menjadi hal yang bermafaat dan menjadi amal yang mampu menghantarkan kita menjadi muslim produktif. Aamiin Allahuma Aamiin.

Penulis : David Iwanto [Tim Buku Mutiara Bayt Al Fath]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *